Ada sebidang dinding dikamarku sekarang telah menjadi ajang kreasi dan seni. Tempat ini telah secara tidak “resmi” menjadi milik anak-anakku. Pada hal belum ada izin lisan maupun tertulis yang mengatakan mereka bebas untuk melakukan ajang kreatifitas disitu. Tapi rasanya tembok itu telah “terjajah” secara permanen dan konsisten dengan karya-karya mereka.
Sesungguhnya saya lupa kapan asal mula terjadinya tembok itu menjadi tempat “penyiksaan “ . hal ini saya katakan, karena lukisan yang berada disana sukar saya nilai berapa nilai dari estetika dan seninya, karena walau bagaimanapun saya berusaha untuk memahami lukisan-lukisan tersebut, saya tidak bisa menebak lukisan apa yang dimaksud disana.
Dan tembok itu bisa menjadi ajang seni tersebut saya tidak ingat kapan terjadinya. Yang saya ingat adalah waktu itu pas saya pulang kerja , ketika saya memasuki kamar saya anak saya yang paling besar dengan wajah yang kelihatan gembira berkata: “ pi , lihat bagus enggak gambar yang saya dan dede buat?” , secara sambil lalu saya pun melihat gambar yang tertempel di tembok kamar saya, secara spontan sayapun menggangkat jempol tanpa mencek dan ricek lagi apa yang mereka lakukan. Sambil mengatakan “luar biasa, bagus sekali. Dan waktu itu baru sekitar 3 lukisan yang tertempel disana. Tapi sekarang sudah menjadi puluhan lukisan nangkring di tembok itu.
Mengenai kreatifitas ini sebenarnya ada kamar khusus yang saya siapkan buat mereka. Di kamar ini segala kreatifitas boleh mereka lakukan. Bila masuk kekamar ini , saya pun merasa memasuki dunia lain. Maksudnya dunia yang penuh warna dengan segala coretan dan tempelan ada disana, walaupun saya tidak bisa katakan kalau saya menikmati semua itu. Karena pada perinsipnya saya menyukai suasana yang rapi. Dan di tempat khusus ini sungguh jauh dari harapan saya. Dan entah mengapa, mungkin saya terkesan kurang memperhatikan ruang khusus ini. Maka anak saya secara proaktif dan agresif menyerang kamar saya.

Tapi kalau kita mau menyadari, anak-anak kita ini memang sangat membutuhkan sebuah tempat untuk menyalurkan energy mereka. Mereka butuh tempat bermain. Dan mengenai tempat memang sangatlah minim yang bisa kita temukan. apa lagi didalam sebuah perumahan yang standard, sedangkan yang mewahpun belum tentu bisa ada. Dan kalaupun ada kita ragukan keamanannya.
Menilik dari hal ini, saya terpaksa membuang segala egoisme saya mengenai segala macam “kerapihan” yang ada di rumah. Selain sayapun berusaha untuk bisa menikmati lukisan anak-anak saya yang “abstrak” ini, walaupun saya yakin mereka tidak melukis dengan gaya tersebut. Minimal hal “kebebasan”inilah yang baru bisa saya berikan.
Semoga anak-anak kita bisa menyalurkan energynya dengan tepat guna. Dan bisa menikmati kebahagiaan masa kecilnya dengan cukup maksimal di tengah keterbatasan yang ada. bagi saya rumah bisa saya rapikan , tapi kebahagiaan anak-anak saya ini akan berlalu seiring waktu dengan mangkin dewasanya mereka. Maka selayaknyalah bila saya memberi mereka kenangan masa kecilnya dengan kenangan yang indah.
You need to be a member of Kolam Teratai to add comments!
Join this Ning Network