DALAM ABHINHAPACCAVEKKHANA PATHA ( KERAP KALI DIRENUNGKAN )
Terdapat Perenungan sbb:
Aku wajar mengalami usia tua, Aku belum mengatasi usia tua, Aku wajar manyandang penyakit,
Aku belum mengatasi penyakit, Aku wajar mengalami Kematian, Aku belum mengatasi kematian,
Segala milikku, yang kucintai dan ku senangi, akan berubah, akan terpisah dariku.
Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri, terwarisi oleh perbuatanku sendiri, lahir dari perbuatanku sendiri,
berhubungan dengan perbuatanku sendiri, tergantung pada perbuatanku sendiri,
Apapun perbuatan yang ku lalkukan, Baik atau buruk, Itulah yang ku warisi, Hendaklah ini kerap kali kita
renungkan.
Menyadari bahwa akan usia tua, sakit, mati, berpisah dengan yang dicinta, berkumpul dengan yang di benci, maka kita harus berusaha untuk membangun benteng pertahanan, agar kondisi kondisi seperti uraian diatas
tidak bisa masuk menyerang secara tiba2 yang mengakibatkan kepanikan sehingga kita tidak bisa menggunakan hati dan pikiran kita secara tenang dan jernih. Membangun benteng pertahanan tersebut dengan berdaya upaya dan berusaha untuk selalu berbuat baik dan berbuat baik sebagai wujud dari niat niat baik kita yang selalu muncul setiap saat dan usahakan kita laksanakan pada kesempatan pertama. Perbuatan perbuatan baik itulah benteng pertahanan kita. Perbuatan baik selalu menuntut kepedulian dan kepekaan. Peduli sehingga kita terpacu atau termotivasi untuk berbuat dan peka bahwa kita harus selalu mawas diri sehingga tidak jatuh ke lobang yang sama untuk kedua kali.
Peduli dan Peka, adalah hakekat dari cinta kasih dan kasih sayang yang universaal, tidak menuntut balas jasa, tidak menuntut balas budi, seperti matahari menyinari dunia, tidak mengharapkan pantulan cahaya kembali.
Adalagi renungan tentang kematian yang terdapat didalam Pamsukula Gatha.
Segala yang terbentuk tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam,setelah timbul akan hancur dan lenyap, Bahagia timbul setelah gelisah lenyap.
Semua mahluk akan mengalami kematian, mereka telah berkali kali mengalami kematian,dan akan selalu demikian.
Begitu pula saya, pasti mengalami kematian juga, keragu raguan tentang ini tidak ada dalam diriku.
Disini hukum "anicca " hukum proses perubahan, mutlak dipahami dan dimengerti agar kita setiap saat selalu menyiapkan diri menyongsong datangnya akhir dari proses kehidupan menuju ke proses kematian.
Kita hendaknya memperlakukan tamu kematian itu layaknya tamu Agung
. Tamu Agung yang akan mengunjungi kita, tamu Agung yang terhormat, tamu Agung yang akan memberikan penghargaan, tamu Agung yang akan memberi hadiah, tamu Agung yang akan memberikan jabatan dan kedudukan terhormat. Kalau demikian anggapan kita terhadap tamu Agung kematian itu, apa yang harus kita siapkan?, tentunya berusaha m empersiapkan segala sesuatunya se baik baiknya agar tdak menimbulkan kesan tidak berlaku hormat, yang akan menimbulkan kekecewaan bagi sitamu dan penyesalan bagi si tuan rumah. Demikianlah hendaknya perlakuan kita terhadap tamu Agung kematian, yang sudah disebut dalam Pamsukula Gataha, " Begitu pula saya, pasti mengalami kematian"
Kumpulkan dan timbunlah perbuatan berjasa sebanyak banyak nya, sebagai hidangan istimewa untuk tamu Agung kita, agar beliau berkenaan di hati sehingga beliau( tamu kematian ) bisa dan mau menempatkan kita pada posisi yang layak sesuai tingkatan tingkatan perbuatan baik kita.
Semoga saya berbahagia,semoga orang tua saya berbahagia, semoga para leluhur dan keluarga saya berbahagia dan semoga semua mahluk berbahagia. Saya berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sanggha.
Tags:
Beritahu Teman
Facebook
You need to be a member of Kolam Teratai to add comments!
Join Kolam Teratai