Namaku Embek. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku dipanggil begitu. Hanya saja orang lain dan teman-temanku selalu memanggilku dengan nama itu. Sejak kecil orang tuaku sudah tiada. Aku hanya ingat sekilas wajah ibuku yang kini semakin samar dimakan usiaku. Mungkin karena kelahiranku yang tidak diharapkan itulah maka orang tuaku tidak memberikan nama padaku. Jadilah aku bernama Embek.
Aku tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Wajahku menawan bagaikan kuda betina yang anggun. Bibirku seksi dan indah sekali. Semua lelaki jatuh hati padaku. Pada saat aku beranjak dewasa, ayah angkatku mencarikan jodoh untukku. Tak diduga, cowok yang dia perkenalkan padaku lumayan juga. Hanya butuh waktu sesaat untuk kami berdua jatuh cinta. Tapi apa dikata! Ternyata dia bukanlah cowok yang memiliki rasa tanggung jawab. Setelah aku mengandung anaknya, dia menghilang entah kemana. Karena sampai hari ini dia belum muncul juga, sedangkan perutku semakin membesar, kekhawatiranku menjadi-jadi. Dengan penuh pertimbangan akhirnya aku mengadu pada ayah angkatku. Dengan malu-malu kuungkapkan padanya. Pada awalnya dia tidak mengerti apa yang kukatakan, tapi kemudian beliau memegang perutku dan tahu bahwa aku hamil. Apa yang terjadi selanjutnya membuatku terheran-heran.
Ayah angkatku malah berteriak kegirangan. Apa pula ini, pikirku. Tampaknya ayah angkatku yang sudah tua ingin segera punya cucu. Aku yang tidak memiliki suami dan sekarang mengandung anak si dia, terpaksa menumpang lagi di rumah ayah angkatku itu. Mereka tidaklah kaya. Mereka orang yang sederhana. Rumahnya masih beratapkan jerami, berpintu kayu dan berlantai semen seadanya. tapi itu semua cukup bagiku. Aku tak mau menambah beban bagi orang tua angkatku itu.
Bulan-bulan berlalu. Sampai akhirnya aku merasa kesakitan hendak melahirkan. Dengan sigap ayah angkatku menyuruh ibu angkat segera memanggil dokter. Tapi yang datang tidak berpakaian seperti dokter. Dia hanya seperti penduduk desa biasanya. Dengan pakaian bebas dia datang ke rumah kami dan dia memeriksaku. Entahlah, sangking kesakitannya aku hampir jatuh pingsan. Sesaat sebelum aku pingsan, aku mendengar tangisan bayi. Anakku telah lahir.
Beberapa jam kemudian aku terbangun. Aku mencari-cari dimana anakku. Ternyata dia berada di samping tempat tidurku. Dengan penuh kasih sayang aku memperhatikan wajahnya. Syukurlah dia lebih mirip denganku ketimbang dengan bapaknya. Dengan penuh kelembutan kuusap wajahnya dan menyusuinya. Hari-hari berlalu dan itu adalah saat-saat terindah bagiku.
Sampai pada suatu hari, aku kegirangan. Ayah angkatku mengajakku ke pasar raya di kota. Aku belum pernah kesana dan ingin sekali melihat ‘dunia luar’ tersebut. Tiba-tiba ibu angkatku menangis dan memelukku. Aku terheran-heran, hendak bertanya. Buat apa ibu menangis, tanyaku. Tapi beliau tidak menjawab. Akhirnya ayah angkat segera menyuruhku ikut dengannya naik mobil. Sebelum pergi kutitipkan anakku pada ibu angkatku. Dengan hati sedikit sedih aku pergi ke kota. Halah, paling cuma sehari, demikian pikirku. Tapi semua itu ternyata salah besar. Ini adalah hari terakhir bagiku.
Perjalanan ke kota memakan waktu cukup lama. Kami berangkat dari dini hari dan baru sampai di pasar kota pukul 2 siang. Perjalanan yang melelahkan tapi terbayarkan juga ketika aku melihat betapa ramainya pasar di kota. Banyak orang berjejalan satu sama lain. Mereka semua berdesak-desakan. Akhirnya mobil berhenti dan diparkir. Ayahku menuntunku ke tempat kerumunan orang-orang. Awalnya aku tak curiga, tapi semakin aku sampai ke tempat itu, semakin pusing kepalaku. Ada semacam bau yang rasanya sangat amis. Aku sendiri hampir muntah. Aku melihat orang-orang yang berkumpul disana, tapi mereka sepertinya biasa-biasa saja. Ada apa ini, pikirku.
Ternyata apa yang kulihat tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Banyak teman-temanku mati terbunuh. Kengerian serta merta menyerangku saat itu juga. Aku meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari genggaman ayahku. Tapi tenagaku tidak cukup. Sambil berteriak aku memohon belas kasihan pada ayahku. Tapi tampaknya dia tidak peduli. Dia telah menjualku. Aku kemudian berteriak lagi memohon belas kasihan pada orang-orang lain yang berada disana. Tapi kerumunan orang itu tampak tidak peduli dan bahkan menyeringai padaku. Aku merasa sangat ketakutan. Aku memikirkan bagaimana mungkin ini terjadi padaku, pada teman-temanku. Mereka semua dibunuh oleh ‘kaum’ ayah angkatku, sedangkan ‘kaum’ku akan menjadi tumbal pada hari naas itu. Aku tahu bahwa aku akan mati suatu hari nanti. Entah itu karena tua, sakit, atau terbunuh. Tapi kita semua memang akan mati. Tapi aku sendiri memilih mati dengan tenang. Itu yang tidak kudapatkan saat ini. Aku ngeri! Aku ketakutan memikirkan bagaimana nasib anakku kelak. Aku tak tahu apa-apa. Semuanya berputar-putar terlalu cepat. Pikiranku kacau, aku pun menangis sejadi-jadinya. Aku meronta sekuat tenaga tapi tetap saja ikatanku tak terlepas. Sesaat kemudian, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.

You need to be a member of Kolam Teratai to add comments!
Join Kolam Teratai