Sore itu aku dan teman-teman ku pergi menuju lembang, kebetulan bersamaan dengan liburan panjang, aku dan teman-teman ku akan melakukan suatu kegiatan yang berkenaan dengan keagamaan, dimana kami diminta untuk membantu dalam suatu kegiatan acara pattidana ( pelimpahan jasa untuk leluhur ) di sebuah vihara terbesar di lembang –Bandung.
Senda gurau kami berbincang di dalam perjalanan ini, sambil diselingi derai tawa dari perbincangan kami, aku sesekali mengamati suasana jalan tol yang kebetulan pada saat itu macet total dengan kendaraan yg berjejer, maklum lah karena libur panjang , jenuh dan sekaligus kesal atas suasana yang terjadi itu, untuk mengatasi kejenuhan, jito yang mengemudikan kendaraan dengan relaknya mengambil sekeping cd, diputarlah cd itu, dendang lagu mengalun ..dan berkumandang sebuah lagu, Ku Menanti Seorang Kekasih yang di nyanyikan oleh Iwan Fals , …………bila mentari, bersinar lagi,hatiku pun ceria kembali, Ku tatap mega tiada yg hitam betapa indah hari ini, ku menanti seorang kekasih yang tercantik yang datang di hari ini ,adakah dia kan selalu setia, bersanding hidup penuh pesona…, harapan ku……..,
sekelumit lagu repacked dengan nuansa baru dari era tahun 80-an ,lagu yang familiar di telingaku, lagu yang sangat kusuka ….lagu itu mengingatkan pada masa-masa SMP, dimana lagu itu mengingatkan dengan teman sekolah ku dulu..Siti Kartika Sari…, cantik,anggun, berkulit putih dan kami sering pulang sekolah bersama, dengan berjalan kaki,bercerita kelucuan dari kejadian di sekolah, bahkan sampai membahas pelajaran sekolah, maklum rumah kami tidak begitu jauh dari sekolah. Mungkin suka ku pada Kartika, hanyalah cinta monyet gaya anak SMP. yang hanya bisa malu-malu bila bertemu dan sulit mengungkapan perasaan hati. Aku mengaguminya dan membayangkan bisa berpacaran dengan dia, namun tak ada kuasa keberaniaan diri untuk mengungkapkan isi hati suka dengannya, namun apa lacur gaya anak SMP, memang penuh kenangan indah..hanya tinggal impian.kenangan itu, aku buang hayalan yang tak berujung…. untuk apa? lagipula pada saat itu banyak waktu luang ku diluar jam sekolah ku gunakan dengan kegiatan vihara, saat itu aku masuk dalam team perpustakaan vihara dan juga mengkoordinir mading vihara. Banyak juga puisi kekaguman ku pada kartika aku tuangkan lewat puisi..hanya itu yang bisa kulakukan menyatakan kekaguman ku pada nya.
Aku tersenyum sendiri kalau ingat masa-masa SMP dulu, lewat lagu Kumenati seorang kekasih ,nya –Iwan Fals membawa hanyalan ku terbang ke masa lalu dan tak terasa sudah mobil yang ku tumpangi sudah memasuki kota Bandung….pudar sudah lamunan ku itu.
Ehmm.....,pikir ku saat ini bukanlah ku menanti seorang kekasih, namun lebih tepatnya menanti sebuah kebahagiaan bathin , kebahagian yang di pupuk dengan sikap kita dengan prilaku sila , kita ingin hal-hal yang baik, hidup seolah-olah ingin menunjukkan bahwa sesungguhnya setiap hari adalah ritual kesadaran. Dan kita telah melewatkan kegiatan-kegiatan sederhana ini bagai angin ribut yang menyapu padang bunga. Angin yang berlomba menuju ruang kosong tanpa tahu banyaknya keindahan yang gugur di bawah sana. Dan kita harus melatih untuk menahan laju angin badai ini, kembali menjadi udara yang bergerak semilir agar sempat memetiki bunga-bunga cantik yang selama ini tumbuh tanpa disadari di padang hidup kita.
Melatih sila kita yang sudah kita ucap dan kita ikrarkan dalam menjadi upasaka-upasika, bersungguh menjalankan guna memperoleh kebaikan dan kebahagiaan ,meniti jalan tengah yang sudah diberikan oleh sang guru agung sang tatagatha, Jalan Tengah dicari bukan hanya demi filosofi, tapi bukti untuk dijalani.
Pemahaman itu pun terus membulat dari hari ke hari agar kita lebih dan lebih menyikapi prilaku kita, yang bukan teori semata namun pembuktian kata dengan prilaku yang sesuai dengan tuntunan dhamma yang begitu indah.
Panca Sila Buddhis telah dikumandangkan Sang Buddha sejak 2500 tahun lalu, sekilas pintas tak jauh berbeda dengan Ten Commandements ( sepuluh perintah Tuhan ) atau nasihat standar orang tua kita : Jangan membunuh,. Jangan mencuri, Jangan berbohong, Jangan berbuat asusila. Jangan mengonsumsi minuman keras yang dapat melemahkan kesadaran. Dan terkadang, dengan konteks zaman yang jauh berubah, pola pikir yang memodern dan kian canggih, sungguh tidak mudah mengerti kedalaman perintah-perintah singkat itu, bahkan terasa naif dan tidak realistis. Namun kesemua itu adalah jalan untuk menuju kebahagian untuk kita sendiri bahkan semua makhluk.
Kini aku sudah tiba di pelataran vihara vipasana graha-lembang bandung, gaung suasana upacara pattidana kian terasa, meja yang tertata rapi dengan bingkisan sajian yang tertulis dengan nama almarhum ungkapan sebagai berbagi kebahagian kepada leluhur merupakan lukisan nyata dalam menuju kebahagiaan, tali –temali blesing teruntai dan menyatu satu dengan yang lainnya untuk pemberkahan oleh bhikkhu sangha.
Pelimpahan jasa tentunya sudah tidak asing lagi bagi umat Buddha yang selalu melakukannya setelah melakukan perbuatan baik. Bahkan di zaman kehidupan Sang Buddha, pelimpahan jasa ini sudah sering dilakukan karena selain dapat membantu orang lain, juga dapat membawa manfaat bagi diri kita sendiri.
Sewaktu Raja Bimbisara meminta agar jasa kebajikan pemberian dana kepada anggota Sangha itu dilimpahkan kepada leluhurnya, Sang Buddha mengucapkan syair Tirokudda Sutta sebagai berikut:
Diluar dinding mereka berdiri dan menanti,
dipersimpangan-persimpangan jalan,
mereka kembali kerumah yang dulu dihuninnya,
dan menanti di muka pintu,
tetapi bila diadakan pesta yang meriah,
dengan makanan dan minuman yang berlimpah,
ternyata tidak seorangpun yang ingat,
kepada makhluk-makhluk itu,
yang merupakan leluhur mereka.
Hanya mereka yang hatinya welas asih,
memberikan persembahan kepada sanak keluargannya,
berupa makanan dan minumanyang lezat,
baik dan disukai pad waktu mereka masih hidup
“Semoga buah jasa-jasa baik kita,
melimpah kepada sanak keluarga yang telah meninggal,
semoga mereka bahagia.”
Sanak keluarga kita yang sedang berkumpul ditempat ini,
dengan gembira akan memberikan restu mereka,
karena diberi makanan dan minuman yang berlimpah.
“Semoga sanak keluargaku berusia panjang,
sebab karena merekalah kami memperoleh sesajian yang lezat ini
“Karena kami diberi perhormatan yang tulus,
maka yang memberinya pasti akan memperoleh,
buah jasa yang setimpal,
karena disini tidak ada pertanian,
dan juga tidak ada peternakan,
tidak ada perdagangan,
juga tidak ada peredaran uang dan emas.”
Sanak keluarga kita yang telah meninggal,
hidup disana dari pemberian kita disini.
Bagaikan air mengalir dari atas bukit,
turun kebawah untuk mencapai lembah yang kosong,
demikian pula sesajian yang diberikan,
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal
Bagaikan sungai, bila airnya penuh,
akan mengalirkan airnya kelaut,
demikian pula sesajian yang diberikan,
dapat menolong sanak keluarga kita yang telah meninggal
“Ia memberikan kepadaku, ia bekerja untukku,
ia sanak keluargaku, ia sahabatku, kerabatku,
memberikan sesajian kepada mereka yang telah meninggal dunia,
dan mengingat kembali kepada apa yang biasa mereka lakukan,
bukan ratap tangis, bukan kesedihan hati,
bukan berkabung dengan cara apapun juga,
untuk menolong mereka yang telah meninggal dunia,
yang dilakukan sanak keluarga yang telah ditinggalkan
Tetapi bila persembahan ini dengan penuih bakti,
diberikan kepada sangha atas nama mereka,
dapat menolong mereka untuk waktu yang panjang,
dikemudian hari maupun pada saat ini
Telah diperlihatkan hakikat sesungguhnya,
Sesajian bagi sanak keluarga,
dan bagaimana penghormatan yang telah bernilai dapat diberikan kepada mereka,
serta bagaimana para bhikkhu mendapatkan kekuatan,
dan bagaimana anda sendiri dapat menimbun,
buah karma yang baik
Demikian syair dari Tirokudda Sutta yang pernah diucapkan oleh Sang Buddha. Setelah membaca Sutta ini dengan teliti, kita tentu dapat memetik manfaat yang besar, yaitu kita tidak seharusnya meratap-tangis, sedih, berkabung, membakar emas dan perak ataupun memberikan sesajian kepada sanak keluarga atau teman kita yang telah meninggal, tetapi yang dapat membantu mereka hanyalah persembahan yang diberikan kepada Sangha atas nama alm.
Akhirnya penantian kebahagian itu datang jika kita dapat memberi kepada sesama, karena dalam kehidupan manusia, kebahagiaan adalah yang didamba semua manusia tetap sama, terlepas dari zaman manusia naik kuda dan sekarang manusia terbang dengan Boeing, kebahagaian batin tetap yang di nantikan, namun terkadang kita terjebak dalam pencerahan sebagai momentum. Kita lupa bahwa menjadi tercerahkan melibatkan disiplin dan praktek yang dijalankan seumur hidup. Kita tersesat dalam “spiritual” sebagai konsep tinggal telan, dan mengabaikan aspek “spirit” yang tak lepas dari “ritual”.
Semoga apa yang kita nantikan kebahagian itu datang menentramkan hati dan membawa manfaat bagi kita, bagi semua makhluk, yang dengan caranya masing-masing telah menjadi guru terbaik kita, Sang Tatagtha yang maha suci yang telah mencapai penerangan sempurna.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia...........................................................


You need to be a member of Kolam Teratai to add comments!
Join Kolam Teratai