Kolam Teratai

Kita Semua Bersahabat

Ketika senja yang temaram,angin sepoi-sepoi menerpa kulit, sejuk sekali suasana saat itu, membuat sebut saja si Pintar dengan asyiknya membaca buku di bawah pohon nan rindang di sebuah padepokan tempat ia menuntut ilmu.
Sedang asyiknya membaca buku ia di kejutkan dengan kehadiran kawannya si Pandir. “ Hey kamu saya lihat tidak di kelas, di halaman bahkan dikamar selalu saja membaca buku,memang tak salah kamu adalah murid yang sangat di sayang oleh guru, karena kepandaian mu ! celoteh si pandir, namun aku ingin sekali menantang kepandaian mu ? “ ah…buat apa kamu menguji kepandaian ku, itu sama saja aku menyombongkan diri atas kepandaian ku dan perlu kau ketahui setiap manusia pasti punya kepandaian yang berbeda-beda, jadi untuk apa ? si pintar merendah.
“ahhhh..sudahlah aku ingin saja tahu sampai dimana kepintaran mu itu ? tantang si pandir, coba kamu jawab berapa 8 x 3 itu?”, secara spontan si pintar langsung menjawab “24”, salah ! kata si pandir yang benar adalah 23 !
Lho…? darimana kamu bisa memastikan bahwa 8 x 3 itu adalah 23 ! , apa aku tak salah dengar, hey dengar yah aku sudah menghitung beribu-ribu kali…tetap saja 8 x3 itu yah 24 !, tidak.. kau yang salah..!, aku telah menghitung dengan sangat benar kalau 8 x 3 itu adalah 23 ! belah si pandir, ….baik lah dari pada kita berdebat yang berkepanjangan lebih bijaksananya kita Tanya dengan guru kita, dia akan menjawab perdebatan kita ini, seandainya kalau 8 x 3 = 24, kamu yang benar, aku rela kau penggal kepala ku, tapi bila ternyata 8 x 3 = 23, kamu harus melepaskan predikat juara murid terpintar di padepokan ini , pinta si pandir.
Si pintar dengan senyumnya berusaha mencegah pertaruhan ini, ” teman, tiada gunanya pertaruhan ini dan saya tidak mau kamu menjadi korban yang tidak ada artinya ini ?
Apa kau bilang ? pandir tetap pada pendiriannya dan tetap bertekad meneruskan pertaruhan ini dan mengajak tuk menghadap sang guru mereka untuk menjadi juri atas jawaban mereka berdua , dan apa yang guru mereka katakan adalah itulah kebenaran, lanjut si pandir.
Maka dengan lesu dan sangat terpaksa si pintar menuruti keinginan si pandir menghadap guru mereka yang terkenal dengan kebijaksanaanya.
Keduanya lalu menghadap guru-nya dan menceritkan apa yang sedang mereka perdebatkan dan pertaruhkan. Sang Guru pun tersenyum dan mengangguk-angguk dan berkata bahwa 8 x 3 =23!, si pandir tertawa terbahak-bahak dengan hasil kemenangannya itu dan betapa kecewanya si pintar atas jawaban sang guru yang begitu ia teladani, dihormati dan di jujung tinggi atas kebijaksaaannya selama ia menuntun ilmu , si pintar selama ini merasa di dustai oleh guru-nya itu atas kebijaksaannya yang telah di berikannya.
Dengan rasa kesal,kecewa dan marah, si pintar lalu membanting buku yang ia pegang, dan dengan rasa kekecewaan yang dalam ia berkata dengan nada yang tinggi ” lebih baik aku meninggalkan padepokan ini, meninggalkan kedustaan guru yang selama ini di berikan kepada saya dan lebih baik saya pulang ke rumah saya dan hidup dengan kejujuran,kesederhanaan dan tidak ada rekayasa hidup dari pada saya disini penuh dengan kebohongan,kemunafikan dan kepura-puraan.”
Melihat reaksi si pintar , sang guru masih melawan kemarahan si pintar dengan senyuman yang mengembang di bibirnya, lalu ia berkata dengan lembut ” murid ku, kalau kamu memang sudah bertekad demikian dan ingin pulang ke rumah mu, aku tak bisa mencegahnya, namun jika kamu masih mau mendengarkan nasihat ku ini, sekiranya kamu nanti di perjalanan pulang turun hujan yang sangat lebat, hati-hatilah murid ku, kamu janganlah berteduh dibawah pohon yang besar, karena pohon itu akan tumbang dan akan menimpah mu, itu saja pesan ku ”.
Namun hati si pintar yang sudah terbakar emosi yang dalam, sambil menggerutu yang tak jelas arahnya, ia langsung keluar dari ruangan guru-nya meninggalkan sang guru dan si pandir yang dari tadi masih tersenyum atas kemenangannya, tanpa mengucap kata pamit, ia begitu kecewa sekali.
Ditengah perjalanan si pintar , tiba-tiba cuaca berubah drastis, langit yang semula cerah, terang benderang berubah menjadi hitam pekat , kilat menyambar-nyambar, guntur bergemuruh dan hujan deras pun tertumpah dari langit .
Perasaan si pintar pun kian berkecamuk dan tercenggah atas peristiwa alam yang di hadapinya itu, tiba-tiba dengan refleknya ia berlari-lari mencari pelindungan, ketika ia melihat pohon yang rindang dan sangat besar, ia terngiyang pesan sang guru, dan ia menghindar dari pohon itu, tanpa ia sadari pohon itu tumbang denga suara yang bergemuruh, si pintar bergidik dan menghela nafas, ehmmm hampir saja nyawa ku melayang tertimpah pohon yang besar itu gumanya dalam hati.
Setelah ia hatinya tenang , ia tersadar atas apa yang di pesankan gurunya kepada dirinya, ternyata sang guru benar-benar bukan manusia sembarangan, manusia yang luar biasa hebatnya, mampu membaca apa yang akan terjadi.
Si pintar mengurungkan niatnya untuk pulang kerumahnya dan berbalik kembali ke arah padepokan untuk memohon maaf dan memohon untuk bisa kembali diterima sebagai muridnya sang guru yang arif dan bijaksana.
Si pintar melihat dari kejauhan di depan pintu padepokan, gurunya ternyata sudah menunggunya sambil tersenyum, sesambil mengelus-elus jenggot putihnya yang panjang.
Si pintar pun terkesima, sebelum sempat ia berkata-kata , guru-nya berkata, ” wahai murid ku, 8 x 3 yah 24 !, sampai kapan pun 8 x3 = 24, namun seandainya tadi kukatakan 8 x 3 = 24, kamu akan menyesal seumur hidupmu, karena kamu akan merasa menjadi pembunuh bagi sahabat mu sendiri dan sepanjang hayat mu penyesalan apapun tidak ada gunanya, hidup mu akan tersiksa selamanya atas tindakan itu, 8 x 3 = 24 hanyalah kebenaran kecil, kebenaran matematis, yang semua orang tahu, namun 8x3= 23 dalam hal tadi adalah kebenaran besar, karena menyangkut nyawa manusia, nyawa kawan mu sendiri !.”
” ingatlah muridku , hidup ini penuh dengan aneka warna setiap warna itu mempunyai arti tersendiri dan tidak semua bisa dibaca dengan mata biasa, harus dibaca dengan kebajikan , kejernihan mata hati, kebesaran jiwa dan kelapang dada-an, kalau hanya bicara hitam dan putih semua orang pasti bisa membedakannya, namun kalau beraneka warna sungguh sulit untuk mengatakanya manakah yang indah, mana yang tidak indah, demikian pula tentang kebenaran, dengan mudah dan jelas kita akan membedakan ini baik dan ini jahat,namun acapkali persoalannya menjadi kabur kala kebenaran pendapat satu dengan pendapat yang lainnya, disini kejernihan mata hati yang harus menentukan,agar kebaikan untuk semua nya terasa baik, renungkanlah murid ku”
Memang dalam kehidupan kita di hadapkan dengan persoalan yang dikira kita gampang dan mudah menghadapinya, tapi di balik itu tanpa dengan kebijaksaan hati tanpa kita sadari bisa merugikan orang lain, banyak yang harus kita korbankan kebijaksaan kecil sehingga bisa mendapatkan kebijaksaan besar yang membawa kebaikan semua, karena kebijaksanaan ditimbulkan oleh kebajikan dan kebajikan ditimbulkan oleh kebijaksanaan, dimana ada satu maka ada yang lainnya.
Orang yang bajik memiliki kebijaksanaan dan orang yang bijaksana memiliki kebajikan. Kombinasi dari kebajikan dan kebijaksanaan itulah sebagai hal yang tertinggi di dunia
Semoga kita dapat bertambah bijak dalam menentukan sikap dalam setiap menghadapi segala persoalan....semoga..semoga..semoga

Comment

You need to be a member of Kolam Teratai to add comments!

Join Kolam Teratai

Robby Candra Comment by Robby Candra on November 23, 2009 at 9:34am
Ternyata Benar belum tentu Bijak.

Our Network

© 2010   Created by manduka™ on Ning.   Create a Ning Network!

Badges  |  Report an Issue  |  Privacy  |  Terms of Service

Sign in to chat!