Kolam Teratai

Kita Semua Bersahabat

Disadari atau tidak, di legalkan atau tidak, tapi tingkatan kasta itu terjadi dalam dunia nyata ini. sebenarnya apa pendapat Bro and sis tentang ini dan di kasta mana kamu berada?

Reply to This

Replies to This Discussion

Mungkin , terjadinya kasta hanya rujukan, kesepakatan, untuk menenggarai didalam suatu kelompok masyarakat dan budaya yang berkembang pada masa itu.

Pada masa sekarang ini jika kita dihadapkan pada pilihan keberadaan kondisi tsb, susah untuk dijawab ya.

kalau aku termasuk golongan All kasta ( narsis apa nggak ya )
Buktinya ........kadang bisa bijak sana dan belum bijaksini,atau sebaliknya
kadang masih marah , kadang kadang tidak.......kadang2222 dll

( kasta mana saja adl sebuah pilihan yang berproses terus menerus )

Reply to This

Sadar tidak sadar, terkadang kita memberi Stereotipe negatif thd suatu kelompok tertentu. Ada begitu banyak alasan untuk membuat manusia ini berbeda (baik fisik maupun non-fisik). Peng-kasta-an atau pembeda2an ini ada dimana saja, bahkan di negara yg paling demokratis sekalipun. Diskriminasi itu ada dimana saja. Ah jadi ingat pelajaran 'toleransi' di PPKN. :)

Reply to This

ya bro willy hal inilah yang ingin kita bahas, kita selalu mengatakan kita adalah sama, siapapun kita ,tapi kita selalu mengklaim bahwa kita orang yang menghormati HAM, tapi betulkah begitu. ?

Reply to This

kasta sama juga perbedaan antara golongan,sekarang saja masih berlaku antara si miskin dan si kaya, mana yang penguasa mana yang berkuasa....kayanya ribet bgt, sang buddha sendiri mendobrak adanya kasta di brahmajala sutta.

Reply to This

apa yang dilakukan oleh sang Buddha sungguh tak tercela, yang jadi masalah adalah, secara formal mungkin sistem kasta mulai di tinggalkan, tapi secara informal kasta ini sangat terasa. dan hampir menimpa segala ras dan golongan.

Reply to This

termasuk kasta hape lawas dan kasta hape blekberi? j/k :)

Reply to This

Ko Herry,

Kemaren aku baca buku-nya Shen Shian (recommended book neh): Cerah Setiap Hari, di situ tertulis begini (agak panjang gak apa ya):

Cukup aneh rasanya bagiku melihat sebagian orang mendapatkan respek dan/atau perhatian hanya karena bentuk atau penampilan mereka. Sepertinya, dalam pikiran, kita suka menciptakan citra tertentu dari orang-orang yang kita temui, dan interaksi berikutnya dengan mereka dilandaskan pada citra ciptaan kita itu.

Kadang-kadang, aku melihat orang lebih memberi perhatian kepada Bhiksu dan Bhiksuni, hanya karena mereka adalah anggota Sangha. Nasihat yang disampaikan oleh umat awam kadangkala (jika tidak selalu) kurang begitu diperhatikan, meskipun isi nasihatnya sama dengan apa yang disampaikan oleh seorang Bhiksu atau Bhiksuni.

Ya... mengasihi dan menghormati mereka yang telah melepaskan 'kemelekatan duniawi' memang merupakan sifat yang baik, tapi orang lupa bahwa mereka juga adalah manusia seperti halnya kita.
Terus, bukankah kita semua, umat awam, juga punya potensi untuk menjadi "Yang Mulia" (siapa tahu...)?
Jadi, tolong terus menghormati Yang Mulia, yang ada di dalam diri setiap orang.


Aku setuju banget ama tulisan di atas ko... kenapa? Karena menurut aku memang seringkali kita hanya memandang orang, memberi label orang itu karena beberapa hal yang tampak di luar saja. Beberapa karena harta yang dimiliki, lantas orang ini disebut memiliki kasta tinggi? Lalu beberapa lagi karena memiliki pengetahuan lebih banyak seperti seorang guru atau seorang romo pandita mungkin, sehingga mereka kita anggap juga memiliki kasta yang lebih tinggi? Kemudian bisa juga orang-orang yang 'melepas keduniawian' Bhiksu ataupun Bhiksuni, seperti contoh pada tulisan di atas.

Memang dalam hidup bermasyarakat kita tidak terlepas dari namanya etika sopan santun. Lagipula Sang Buddha sendiri mengajarkan untuk menghormati orang-orang tersebut (Bhiksu/Bhiksuni, Romo, Guru, dll) karena dianggap memiliki kebijaksanaan lebih dari kita. Tapi kembali lagi, apakah demikian adanya? Semua itu kan label yang diberikan oleh manusia juga? Pada dasarnya saya percaya masing-masing manusia memiliki benih Ke-Buddha-an, jadi bukan berarti seorang umat awam, atau bahkan seorang miskin sekalipun tidak memiliki kebaikan, kebajikan ataupun kebijaksanaan sama sekali.

Justru kita ini seringkali lupa, hanya karena 'label' yang menempel itu, kita jadi 'dibutakan' dan menganggap 'orang-orang' tersebut benar atau lebih tinggi kasta nya daripada kita ataupun orang-orang lain. Padahal kembali lagi, kita ini sama-sama masih manusia dan sama-sama masih berada di dalam samsara ini, tiada yang lebih tinggi ataupun rendah derajatnya, dan semua sama-sama berpotensi mencapai pencerahan (Nibbana).

Kalau tanya di kasta mana saya berada? Tergantung siapa yang melihat 'saya' dan 'persepsi' orang terhadap saya. Kalau bagi saya sendiri, saya lahir tanpa kasta, saya orang yang bebas....

Salam
_/\_

Reply to This

coba bro citra buka di sutta jaliya sutta dan brahmajala sutta. tks

Reply to This

Bagaimana dengan perbedaan antara Para Ariya, MahaThera, Thera, Bhikkhu, Pandita, Umat Awam yang memegang sila, dan Orang Biasa.

Ingat tidak, bukankah ada pendapat yang mengatakan kalau berdana harus di ladang yang subur? Dan ladang yang subur itu juga "ber kasta-kasta".

Saya justru berpikir bahwa adanya perbedaan kelompok itu wajar-wajar saja. Tidak mungkin semua jadi sama. Sudah alami kalo jagung kumpul jagung dan kacang kumpul kacang.

Hanya saja dengan acuan apa kita memandang orang lain lebih tinggi dengan kita? Kalo buddha menolak kasta yang terjadi saat itu karena Kasta itu menentukan seseorang lebih terhormat atau tidak berdasarkan keturunan. Tapi di sisi lain Buddha juga menganjurkan kita umat awam untuk menghormati mereka yang telah suci. Memang hal itu terjadi atas dasar pemahaman dan pola pikir yang jauh berbeda, tapi bukankah perbedaan itu memang ada?

_/\_

Reply to This

Hm... perbedaan memang ada, tapi pembedaan yang harus dihindari.

Reply to This

setuju... pembedaan yang harus dihindari

Reply to This

perbedaan memang harus ada namun perbedaan bukanlah menjadi pesaing namun sebagai melengkapi dan menambahkan kelebihan dan kekurangan agar memperoleh suatu hal yang positif

Reply to This

RSS

Our Network

© 2010   Created by manduka™ on Ning.   Create a Ning Network!

Badges  |  Report an Issue  |  Privacy  |  Terms of Service

Sign in to chat!